Harga CPO Dunia Membara, Saham Emiten Sawit Kompak Melaju di Tengah Merahnya IHSG

Marianus Waruwu
Harga CPO Dunia Membara, Saham Emiten Sawit Kompak Melaju di Tengah Merahnya IHSG
Saham sawit makin naik. Dipicu lonjakan CPO global & sentimen perang Iran. (Eco Bisnis/idx)
A-AA+A++

Jakarta, Eco Bisnis – Sektor perkebunan kelapa sawit menjadi primadona di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (2/4/2026) pagi. Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan ke zona merah, deretan saham emiten sawit justru konsisten menguat, terdorong oleh lonjakan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di pasar global.

Berdasarkan data BEI hingga pukul 10.33 WIB, saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) memimpin penguatan dengan kenaikan 4,19 persen ke posisi Rp1.740 per unit. Menyusul di belakangnya, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) menanjak 3,17 persen, dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menguat 2,77 persen ke level Rp1.855.

Tren positif ini juga menjalar ke emiten sawit lainnya. Saham PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) naik 2,06 persen, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) bertambah 1,96 persen, serta PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) yang terangkat 1,41 persen.

Emiten raksasa seperti PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) turut naik 1,00 persen, disusul PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) sebesar 0,98 persen, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) 0,78 persen, dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang menguat tipis 0,69 persen.

Performa gemilang saham sawit ini berbanding terbalik dengan kondisi pasar secara keseluruhan. IHSG tercatat merosot 1 persen ke level 7.111. Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi sejak akhir Januari lalu, yang dipicu oleh isu investabilitas MSCI serta ketidakpastian geopolitik akibat konflik Iran yang kian memanas.

Kenaikan harga CPO tidak lepas dari dinamika pasar komoditas dunia. Di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak CPO untuk pengiriman Juni naik 0,84 persen menjadi 4.809 ringgit per ton.

Melansir Reuters, pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menegaskan keberlanjutan serangan terhadap fasilitas energi Iran menjadi pemicu utama meroketnya harga minyak mentah. Lonjakan harga energi secara otomatis meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku utama biodiesel.

Selain faktor eksternal, kebijakan domestik juga memberikan sentimen positif bagi industri ini. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan kebutuhan bahan baku biodiesel tahun ini melonjak menjadi 15 juta ton, naik sekitar 2 juta ton dibandingkan tahun lalu seiring implementasi program B50.

“Kebutuhan bahan baku biodiesel diproyeksikan mencapai sekitar 15 juta ton pada tahun ini, naik 2 juta ton dibandingkan tahun lalu setelah implementasi program biodiesel berbasis sawit B50,” tulis pernyataan resmi GAPKI.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) turut memperkuat fundamental sektor ini. Ekspor minyak sawit mentah dan olahan Indonesia pada dua bulan pertama tahun 2026 menembus 4,54 juta ton, atau melesat 36,26 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sejalan dengan kondisi pasar, Pemerintah Indonesia juga telah mengerek Harga Referensi CPO untuk periode April 2026 menjadi USD989,63 per ton, naik signifikan dari posisi Maret yang sebesar USD938,87 per ton.***