ASEAN Sepakati Proyek AIM-ASEAN untuk Tekan Ancaman Spesies Invasif hingga 2030

Marianus Waruwu
ASEAN Sepakati Proyek AIM-ASEAN untuk Tekan Ancaman Spesies Invasif hingga 2030
Sekretariat ASEAN, serta perwakilan sejumlah negara seperti Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Thailand, dan Timor-Leste ini menghasilkan rancangan proyek bertajuk AIM-ASEAN (Accelerating IAS Management in ASEAN). Eco Bisnis/Y
A-AA+A++

Jakarta, Eco Bisnis – Negara-negara di kawasan ASEAN resmi menyepakati pembentukan proyek regional strategis guna mengatasi ancaman spesies asing invasif (Invasive Alien Species/IAS) yang kian mengkhawatirkan.

Kesepakatan ini dicapai dalam forum lokakarya tingkat regional yang berlangsung di Jakarta pada 30 Maret hingga 1 April 2026.

Kegiatan yang melibatkan ASEAN Centre for Biodiversity (ACB), Sekretariat ASEAN, serta perwakilan sejumlah negara seperti Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Thailand, dan Timor-Leste ini menghasilkan rancangan proyek bertajuk AIM-ASEAN (Accelerating IAS Management in ASEAN).

Proyek tersebut dirancang sebagai langkah konkret memperkuat pengendalian spesies invasif secara terpadu di kawasan Asia Tenggara.

Isu spesies invasif kini menjadi perhatian serius karena dampaknya yang luas terhadap ekosistem dan ekonomi.

Dalam forum tersebut, terungkap bahwa spesies asing invasif berkontribusi besar terhadap sekitar 60 persen kasus kepunahan spesies di dunia.

Kondisi ini menjadi ancaman nyata, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi namun rentan terhadap gangguan eksternal.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dari Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa wilayah ASEAN menghadapi risiko yang semakin kompleks.

Tingginya mobilitas manusia, perdagangan internasional, serta pertumbuhan sektor pariwisata membuka banyak jalur masuk bagi spesies asing yang berpotensi merusak ekosistem lokal.

“Negara-negara di kawasan ini tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri. Ancaman spesies invasif bersifat lintas batas dan membutuhkan respons kolektif yang terkoordinasi,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Proyek AIM-ASEAN sendiri disusun untuk mendukung implementasi Target 6 dari Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KMGBF), yang menargetkan pengurangan laju penyebaran spesies invasif hingga 50 persen pada tahun 2030.

Dalam konteks ini, ASEAN berupaya mengambil peran strategis sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi sekaligus rentan.

Hasil utama dari lokakarya ini adalah penyusunan enam pilar utama yang akan menjadi fondasi implementasi AIM-ASEAN. Pertama, penguatan tata kelola melalui pembentukan gugus tugas regional serta penunjukan titik fokus di setiap negara anggota.

Kedua, pembangunan sistem data terpadu yang mencakup daftar pemantauan spesies invasif serta mekanisme peringatan dini berbasis regional.

Ketiga, peningkatan sistem keamanan hayati melalui standar penilaian risiko yang lebih ketat dan harmonisasi kebijakan karantina. Keempat, pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan teknis dan pertukaran pengetahuan antarnegara.

Kelima, pelaksanaan proyek percontohan di lokasi strategis, termasuk kawasan konservasi seperti Taman Nasional Komodo yang dinilai memiliki nilai ekologis tinggi.

Sementara itu, pilar keenam menitikberatkan pada aspek pembiayaan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai sumber, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga mitra internasional.

Pendekatan ini diharapkan mampu memastikan keberlangsungan program dalam jangka panjang.

Yang menarik, proses perumusan proyek ini melibatkan berbagai pihak lintas sektor. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga lembaga penelitian, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil turut berkontribusi.

Kolaborasi ini dinilai penting agar kebijakan yang dihasilkan tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga relevan dengan kondisi di lapangan.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke Suaka Margasatwa Muara Angke.

Kawasan mangrove tersebut menjadi contoh nyata bagaimana spesies invasif dapat mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir.

Dalam kunjungan tersebut, peserta berdiskusi langsung dengan pengelola kawasan mengenai tantangan pengendalian, keterlibatan masyarakat, serta upaya restorasi lingkungan.

Kunjungan ini memperkuat pemahaman bahwa kebijakan regional harus mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata di tingkat lokal. Tanpa implementasi yang konkret, strategi sebesar apa pun tidak akan memberikan dampak signifikan.

Ke depan, hasil lokakarya ini akan difinalisasi dalam bentuk dokumen Project Concept Note AIM-ASEAN. Dokumen tersebut rencananya akan diajukan ke berbagai skema pendanaan internasional seperti Global Biodiversity Framework Fund dan Global Environment Facility.

Langkah ini menjadi penanda bahwa ASEAN tidak hanya berhenti pada komitmen, tetapi mulai bergerak menuju aksi nyata dalam menghadapi ancaman spesies invasif.

Proyek AIM-ASEAN diharapkan menjadi tonggak penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus melindungi kekayaan hayati kawasan untuk generasi mendatang.

Dengan semakin meningkatnya tekanan terhadap lingkungan, kerja sama regional seperti ini menjadi kunci.

ASEAN kini dihadapkan pada pilihan: bergerak bersama atau menghadapi risiko kerusakan ekosistem yang lebih besar di masa depan.***