Harga TBS Sawit Riau Naik, Sentuh Rp3.950/Kg, Dorong Optimisme Ekonomi Petani

Marianus Waruwu
Harga TBS Sawit Riau Naik, Sentuh Rp3.950Kg, Dorong Optimisme Ekonomi Petani
Ilustrasi buah kelapa Sawit. (Eco Binsi/Y)
A-AA+A++

Riau, Eco Bisnis – Kabar positif datang dari sektor perkebunan kelapa sawit di Riau. Dinas Perkebunan (Disbun) setempat resmi mengumumkan kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit pola kemitraan plasma untuk periode 1–7 April 2026. Kenaikan ini dinilai menjadi sinyal penting bagi pemulihan ekonomi petani di tengah dinamika pasar global komoditas.

Berdasarkan hasil penetapan terbaru, harga TBS tertinggi tercatat pada kelompok umur tanaman 9 tahun yang mencapai Rp3.950,63 per kilogram. Angka ini mengalami peningkatan sebesar Rp64,13/kg atau sekitar 1,65 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi yang paling signifikan dalam daftar harga pekan ini.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Disbun Riau, Dr. Defris Hatmaja, menjelaskan bahwa tren positif ini tidak lepas dari penguatan harga turunan kelapa sawit di pasar. Menurutnya, kenaikan harga crude palm oil (CPO) dan kernel menjadi faktor utama yang mendorong perbaikan harga di tingkat petani.

“Pergerakan harga minggu ini sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga CPO dan kernel. Ini berdampak langsung pada peningkatan nilai jual TBS di tingkat petani,” ujarnya.

Dalam periode ini, indeks K yang digunakan tercatat sebesar 92,67 persen. Sementara itu, harga penjualan CPO mengalami kenaikan sebesar Rp210,69, dan kernel naik lebih signifikan yakni Rp705,69 dibandingkan minggu sebelumnya. Kondisi ini memperkuat tren kenaikan harga TBS yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Namun demikian, Defris juga mengungkapkan adanya dinamika dalam proses penetapan harga. Sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) dilaporkan tidak melakukan transaksi penjualan pada periode ini. Sesuai dengan regulasi dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024, kondisi tersebut mengharuskan penggunaan harga rata-rata tim sebagai acuan.

Jika dalam proses validasi ditemukan ketidaksesuaian, maka harga akan merujuk pada rata-rata yang ditetapkan oleh KPBN. Untuk periode ini, harga rata-rata CPO KPBN tercatat sebesar Rp15.663,50 per kilogram, sedangkan harga kernel berada di angka Rp15.385,00 per kilogram.

Kenaikan harga ini tidak hanya dipengaruhi faktor pasar, tetapi juga hasil dari perbaikan tata kelola dalam sistem penetapan harga TBS di Riau. Pemerintah provinsi bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk aparat penegak hukum, disebut terus mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam mekanisme penetapan harga.

Upaya pembenahan ini menjadi isu krusial dalam ekosistem industri sawit, mengingat selama ini petani kerap berada pada posisi yang kurang menguntungkan akibat fluktuasi harga dan ketidakseimbangan informasi pasar. Dengan sistem yang lebih transparan, diharapkan harga yang diterima petani semakin adil dan mencerminkan kondisi pasar sebenarnya.

“Perbaikan tata kelola ini adalah bentuk komitmen bersama seluruh stakeholder. Dampaknya tidak hanya pada stabilitas harga, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan petani,” tambah Defris.

Dari sisi ekonomi, kenaikan harga TBS memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi daerah. Peningkatan pendapatan petani akan berdampak pada daya beli masyarakat, perputaran ekonomi lokal, hingga sektor-sektor pendukung lainnya seperti perdagangan dan jasa.

Adapun rincian harga TBS berdasarkan umur tanaman pada periode ini menunjukkan variasi yang cukup signifikan. Untuk tanaman berumur 3 tahun, harga ditetapkan sebesar Rp3.053,40/kg, sementara umur 4 tahun Rp3.453,57/kg, dan umur 5 tahun mencapai Rp3.657,81/kg. Harga terus meningkat seiring usia produktif tanaman, dengan kisaran tertinggi berada pada umur 8 hingga 10 tahun.

Setelah melewati usia produktif optimal, harga mulai mengalami penurunan. Misalnya, untuk umur 21 tahun harga berada di Rp3.869,90/kg dan terus menurun hingga Rp3.437,63/kg pada umur 30 tahun. Pola ini mencerminkan produktivitas tanaman yang cenderung menurun seiring bertambahnya usia.

Kenaikan harga TBS ini menjadi momentum penting bagi sektor sawit di Riau, yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah. Di tengah tantangan global seperti tekanan isu lingkungan, fluktuasi harga komoditas, serta tuntutan keberlanjutan, stabilitas harga di tingkat petani menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan industri.

Ke depan, konsistensi dalam menjaga transparansi, penguatan kelembagaan petani, serta adaptasi terhadap standar keberlanjutan global akan menjadi penentu daya saing sektor sawit Indonesia, khususnya di Riau.

Dengan tren positif ini, harapan besar muncul bahwa kesejahteraan petani sawit akan semakin meningkat, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia.