Posko Energi Lebaran 2026 Ditutup, Pemerintah Pastikan Pasokan BBM hingga Listrik Aman di Tengah Geopolitik Global

Marianus Waruwu
Posko Energi Lebaran 2026 Ditutup, Pemerintah Pastikan Pasokan BBM hingga Listrik Aman di Tengah Geopolitik Global
Pemerintah memastikan pasokan energi nasional tetap stabil selama periode Ramadan hingga Idulfitri 2026. (Eco Bisnis/Y)
A-AA+A++

Jakarta, Eco Bisnis – Pemerintah memastikan pasokan energi nasional tetap stabil selama periode Ramadan hingga Idulfitri 2026. Hal tersebut disampaikan saat penutupan Posko Nasional sektor energi yang digelar untuk mengawasi distribusi dan ketersediaan energi selama masa mudik dan perayaan hari raya.

Posko nasional tersebut merupakan bagian dari program pengawasan sektor energi selama Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Program ini dimulai sejak 12 Maret 2026 dan resmi berakhir pada akhir Maret setelah melewati periode puncak kebutuhan energi masyarakat.

Inspektur Jenderal kementerian tersebut, Yudhiawan Wibisono, yang mewakili Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan posko berjalan dengan baik tanpa gangguan berarti.

Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan kesiapan pemerintah dan seluruh pelaku sektor energi dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional, terutama saat kebutuhan masyarakat meningkat tajam selama periode mudik dan perayaan hari raya.

“Posko ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat koordinasi pengawasan, tetapi juga menjadi bentuk nyata komitmen pemerintah untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses energi yang aman dan stabil selama Idulfitri,” ujarnya dalam acara penutupan di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan posko tahun ini menjadi pencapaian penting karena berlangsung di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu. Situasi internasional yang memengaruhi rantai pasok energi dunia menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Namun demikian, berkat koordinasi lintas lembaga dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, pemerintah berhasil menjaga ketersediaan energi di berbagai sektor mulai dari bahan bakar minyak, gas bumi, hingga listrik.

Untuk memastikan kondisi di lapangan benar-benar terkendali, Menteri dan Wakil Menteri ESDM bahkan melakukan kunjungan langsung ke sejumlah daerah strategis. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memantau secara langsung distribusi energi, khususnya ketersediaan bahan bakar minyak, LPG, gas bumi, serta kesiapan pasokan listrik di wilayah yang menjadi jalur utama mobilitas masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga memastikan kesiapan mitigasi bencana dari sektor geologi agar potensi gangguan terhadap infrastruktur energi dapat diantisipasi sejak dini.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Posko Nasional sektor energi sekaligus anggota komite di BPH Migas, Erika Retnowati, menjelaskan bahwa keberhasilan operasional posko tidak lepas dari kolaborasi berbagai lembaga pemerintah, badan usaha, serta pemangku kepentingan sektor energi.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan pengawasan energi selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Dari sisi penyediaan bahan bakar minyak, pemerintah mencatat kondisi stok berada dalam kategori aman selama periode posko berlangsung. Ketahanan stok BBM nasional tercatat berada di atas rata-rata 20 hari untuk berbagai jenis bahan bakar seperti gasoline, gasoil, kerosene, hingga avtur.

Meski terjadi peningkatan mobilitas masyarakat selama masa mudik, pasokan BBM tetap mampu memenuhi kebutuhan. Konsumsi jenis gasoline bahkan mengalami peningkatan sekitar 15 persen dibandingkan periode normal.

Sebaliknya, konsumsi gasoil atau solar mengalami penurunan sekitar 18 persen, sementara konsumsi bahan bakar pesawat atau avtur meningkat sekitar 7,2 persen seiring meningkatnya aktivitas penerbangan domestik selama musim liburan Idulfitri.

Selama periode posko berlangsung, pengawasan distribusi energi dilakukan secara intensif di berbagai wilayah Indonesia. Pemantauan dilakukan di puluhan kota dan kabupaten yang tersebar di lebih dari 20 provinsi, termasuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Pengawasan ini bertujuan memastikan tidak terjadi kelangkaan energi di daerah yang mengalami lonjakan kebutuhan selama musim mudik.

Di sektor LPG, pemerintah juga melaporkan kondisi stok nasional berada dalam kondisi aman. Rata-rata ketahanan stok LPG selama periode posko mencapai sekitar 11,6 hari dengan tingkat penyaluran harian mencapai lebih dari 34 ribu metrik ton.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan sekitar 6,5 persen dibandingkan rata-rata distribusi LPG pada periode normal.

Sementara itu, pada sektor gas bumi, distribusi gas tetap berjalan tanpa hambatan. Perusahaan gas nasional berhasil menyalurkan gas kepada berbagai segmen pelanggan, mulai dari industri, pelanggan komersial kecil, rumah tangga, hingga pembangkit listrik.

Total pelanggan yang dilayani meliputi ribuan sektor industri, pelanggan usaha kecil, serta ratusan ribu pelanggan rumah tangga di berbagai wilayah Indonesia.

Kondisi pasokan listrik nasional juga dilaporkan berada dalam kondisi stabil selama periode posko. Sebanyak 17 sistem kelistrikan utama di Indonesia beroperasi secara normal tanpa gangguan besar.

Sistem tersebut mencakup jaringan listrik di wilayah Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga beberapa wilayah di Papua dan Maluku.

Di sisi lain, sektor geologi juga mencatat beberapa aktivitas kebencanaan selama periode pengawasan energi. Tercatat dua gunung api berada pada status siaga, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Semeru.

Selain itu, terjadi puluhan peristiwa gerakan tanah serta beberapa kejadian gempa bumi di berbagai wilayah Indonesia.

Namun demikian, pemerintah memastikan seluruh aktivitas geologi tersebut tidak berdampak terhadap kelancaran distribusi energi nasional.

Dengan berakhirnya operasional posko energi Ramadan dan Idulfitri 2026, pemerintah menilai sistem pengawasan energi nasional semakin matang dalam menghadapi lonjakan kebutuhan energi musiman.

Ke depan, penguatan koordinasi antara pemerintah, badan usaha, dan regulator energi akan terus dilakukan guna memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga, bahkan di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang.